Let's explore the world

Follow us

Menjadi Penumpang Bijaksana - Wandersmurf
358
post-template-default,single,single-post,postid-358,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

Menjadi Penumpang Bijaksana

Menjadi Penumpang Bijaksana

Semenjak beberapa tahun yang lalu, Indonesia menerima terobosan baru, yaitu ojek online, dengan adanya Go-Jek pertama kali. Wah, langsung rame banget. Semua orang pingin nyoba dan terbukti, ini ternyata bukan cuma tren aja, tapi memang berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, animo dari penggunanya semakin lama semakin banyak.

Aku termasuk salah satu orang yang rutin pakai ojek online. Mau kemana-mana, mau ke mall, ke JNE, ke terminal, selalu pesen ojek online yang sekarang variasinya makin banyak. Ada tiga nama besar memang di Indonesia, dan aku pakai mereka berganti-gantian. Sejauh ini, syukur banget belum pernah ada insiden keamanan atau kejadian yang parah banget. Meskipun udah pernah lewat kuburan tengah malem dengan wangi-wangi melati yang bikin agak gimana gitu!!

Nah, tapi semakin kesini kok, aku liat fenomena ini makin gak sehat ya. Nggak cuma penumpang, pengemudi pun sering banget komplain marah-marah kebakaran jenggot karena hal-hal yang sepele banget.

Ini komen yang aku ambil dari salah satu akun instagram para ojek online tersebut:
Haloooo bisa upload foto baru tapi tdk bs menanggapi keluhan custimer yg sangat dirugikan baik dari segi waktu maupun uang. Sampai kapan keluhan saya via aplikasi/dm instagram/ email / comment instagram mau dibalas? Apa harus masuk ke surat pembaca kompas? Ini bukan cuma masalah uang 10rb yg secara tdk wajar anda ambil dr kartu kredit saya. Tapi masalah etika supir yg sgt tdk sopan dan masalah XX yang tdk bisa menyelesaikan masalah dengan efektif!

Ini alay banget beneran. Ada banyak komen-komen serupa yang diposkan juga di akun instagram. Kenapa alay? Karena pertama, sebelum kita membatalkan pesanan, kita selalu diberikan notifikasi bahwa kita akan kena biaya pembatalan IDR 10 ribu. Tinggal kita pilih mau atau enggak. Oke, terus gimana kalau driver yg minta cancel dengan beribu-ribu alasan yang kedengarannya gak masuk akal? Gapapa kok! Kita akan dipotong 10ribu, tapi kita bisa klaim uang itu lagi. Caranya juga gampang, tinggal masuk ke aplikasi dan ceritain apa yang terjadi, terus nanti uangnya akan ditransfer lagi dalam bentuk kredit. Gampang kan?

Aku juga pernah kok kejadian kayak gitu. Makanya, kalau dalam waktu 15-25 menit gak dateng-dateng, yaudah cancel aja. Asal alasan cancelnya logis. Contoh alasan cancel yang gak logis itu gimana? Pesen ojek untuk ke bandara terus pesennya mepet. Ketika driver harus puter balik bentar, ehh dianya gak mau nunggu lama karena takut telat. Terus dia cancel. Terus dikenai biaya pembatalan. Terus marah-marah, komplain sampe seluruh dunia kalo perlu harus tahu.

Ada lagi yang lebih parah. Komplain marah-marah karena hal yang sepele banget. Misal: helm gak ada kacanya (katanya sih, gerimisnya jadi tetep kena muka, yealaaah), AC mobilnya panas, bapaknya cerewet (cerewet sopan ya tapi), nunggunya lama, bapaknya gak tau jalan, motornya kurang keren, nyetirnya ngebut, dan sejuta alasan lain yang bikin pengen tanya, “Seriously?”

Ojek Online

Sepertinya, fenomena ojek online yang sangat membahagiakan, menolong, dan mempermudah ini (at least for me it is), kurang disyukuri ya sama orang-orang. Mereka lupa kalau ojek online itu ya kendaraan umum juga, banyak yang make gak cuma satu dua orang. Jangan berharap kalau naik ojek online terus tiba-tiba harus diperlakuin kayak pangeran Inggris dateng ke kampung. Ya ampun, plis jangan. Mereka ini kan sarana berbagi tumpangan, ada yang nganggur dan bisa bawa motor, ada yang butuh dianterin dan gak punya motor. Lalu dihubungkanlah lewat aplikasi itu. Kita tinggal klik, klik, klik, tiba-tiba ada yang jemput di depan rumah.

KURANG ENAK APA COBA? Heran banget, sumpah heran kalau ada yang marah-marah kebakaran jenggot sampai pakai kata-kata kasar untuk komplain tentang hal-hal yang sepele. Bapaknya lupa beli masker? Yaudalah maafin, toh gak mati juga kalau menghirup kota Jakarta 15 menit. Helmnya gak ada kaca jadi muka kena ujan? Coba liat bapaknya di bagian depan, pasti lebih kuyup! Namanya juga naik motor neng, kalo ujan ya basah lah. AC mobil panas? Coba diinget-inget dulu rasanya naik angkot dan kopaja yang penuh sesak, bau nano nano, gak ada AC, mau duduk pun susah. Tapi apakah kita pernah protes ke angkot dan kopaja itu? Apakah kita datengin supirnya terus marah-marah dengan ancaman “Saya gak akan pakai angkot ini lagi!!”??

Namanya juga transportasi hemat dan ekonomis, pasti ada kurangnya. Kalau mau fasilitas bintang lima, harus berani keluarin kocek lebih dong! Dan jangan juga marah-marah kalau jadwal terbang 1 jam lagi dan baru pesen ojek sekarang. Terus kalau telat yang disalahin ojeknya. Coba deh naik Damri, mana berani nyalahin Damrinya? Karena memang pada dasarnya udah tau kalo dia yang salah. Cuman kesel aja, mau dilampiasin kemana gak tau, akhirnya kembali lagi operator ojek online yang manggut-manggut.

Jaman ini, jaman ketika tinggal pencet dan swingg ada yang jemput, itu surga banget! Terlebih untuk orang yang gak punya kendaraan kayak aku gini. Ya ampun, boro-boro ngeluh, pinginnya malah ngasi tip terus ke mereka. “Yak ampun nih bapak apa gak stres tiap hari bolak-balik keliling jakarta naik motor panas-macet, belum kalo kena marah penumpang.” Kasian? Kasian banget. Cuma kita seringnya egois dulu, baru kasian.

Yuk, jadi penumpang ojek online yang bijak. Belajar menelaah mana kesalahan yang pantas untuk dikeluhkan dan mana yang tidak. Belajar memilah mana yang kewajiban, mana yang preferensi. Memberikan uang kembalian itu kewajiban, mobilnya harus wangi itu preferensi. Kalau mobilnya gak ada pewangi, ya tolong dimaklumi, kan cuma preferensi. Yuk, belajar menghargai orang-orang yang udah bekerja sedemikian keras cuma untuk nganterin kita ke kantor atau ke mall dan haha hihi sementara mereka udah harus kembali ke jalan lagi. Yuk, jadi penumpang yang bijak.

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment