Let's explore the world

Follow us

What a Bad Time to Be Alive - Wandersmurf
373
post-template-default,single,single-post,postid-373,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

What a Bad Time to Be Alive

What a Bad Time to Be Alive

Di beberapa momen yang indah, aku selalu berkata di dalam hati, β€œWhat a great time to be alive.”

Semuanya mudah. Berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang yang berada di belahan dunia lain kini semudah menekan layar sentuh di ponsel pintar. Menyebarkan berita atau pengumuman pernikahan kini semudah memasang foto terbaru di instagram dan jaringan sosial lainnya yang menjamur. Bingung mencari tahu cara membersihkan virus dari laptop? Tinggal meminta google mencari jawabannya untuk kita. Apapun yang ingin kita tanyakan, google bisa menjawabnya. Membeli baju dan melihat-lihat isi buku kini dapat dilakukan dari perangkat elektronik yang sama, yang mengijinkan kita untuk tak perlu mandi dan mengangkat kaki dari rumah.

Tapi di sisi yang lain, aku merasa khawatir. I am worried.

Kini bercakap-cakap dengan orang tak bisa semudah dulu. Kini semua orang – di stasiun, di halte, di toko, di jalan raya – semua sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tak ada yang menengadahkan kepala untuk melihat dunia nyata. Semua menunggu dengan bosan, berharap tak ada yang mengajak berbicara, semua menggerakkan jarinya dan menggulir konten media sosial. Tak ada yang peduli. Tak ada yang ingin membuka pembicaraan.

Kini bercakap-cakap tak semudah dulu. Lima menit pertama ia menatap kita namun lima menit kemudian ia hilang memberikan Likes di foto-foto orang lain. Manusia di masa kini seperti dilatih untuk memiliki konsentrasi jangka pendek. Teori yang mengatakan bahwa manusia hanya bisa berkonsentrasi di 30 menit pertama mungkin haris direevaluasi kembali. Dengan banyaknya tombol dan notifikasi berhamburan, mereka tak tahan harus bercakap-cakap selama satu jam. Mereka tak tahan untuk mengabaikan segala macam bunyi dan pendar dari layar ponsel dan iPad mereka.

Kini bercakap-cakap tak semudah dulu. Kini orang-orang tak saling bertemu lagi. Bersalaman dan berpelukan tak lagi semengasyikkan snapchat dan ask.fm. Orang tak lagi saling mengunjungi untuk bersilaturahmi. Pasangan tak lagi menyempatkan diri untuk duduk bersama dan bercakap-cakap. Mereka didominasi oleh Line, BBM, dan Whatsapp. Emotikon dan huruf, tapi, tak akan pernah menggantikan ekspresi wajah dan sentuhan tangan yang biasa dipertukarkan.

Aku khawatir melihat manusia tak lagi membaca buku cetak. Dan ayah-ibu tak lagi bermain sepeda dengan anaknya, atau membawa mereka bermain di taman hiburan. Aku khawatir tablet telah menggantikan peran orangtua, in so many ways. Aku khawatir nantinya manusia tidak akan berkomunikasi satu sama lain, karena semua kebutuhan mereka dapat dipenuhi oleh satu perangkat canggih bernama teknologi. Kelas berisi 50 orang tak pernah sesepi ini, semuanya sedang sibuk dengan ponsel masing-masing sementara sang dosen sedang menerangkan panjang lebar. Tak ada yang mau menolong korban kecelakaan karena mereka berpikir itu adalah modus kejahatan terbaru, dan jika mereka menolong maka mereka akan ditodong. Dunia ini, berubah menjadi lebih baik dan lebih buruk di saat yang sama.

Dan kadang-kadang aku berkata dalam hati, β€œWhat a bad time to be alive.”

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment