Let's explore the world

Follow us

What I Learn from a Taxi Driver - Wandersmurf
329
post-template-default,single,single-post,postid-329,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

What I Learn from a Taxi Driver

What I Learn from a Taxi Driver

Hari ini adalah permulaan dari long weekend. Setelah selesai ngurus acara client di The Maja, aku harus susah payah dan kesel karena gak dapet-dapet taksi. Somehow, their system is under construction jadi kita gak bisa pesen online ataupun lewat telpon. Sucks, I know. Apalagi setelah berkali-kali ada taksi yang brenti, terus ketika dibilang mau ke Kota Kasablanka, mereka langsung nolak dan ngacirrr. Ngeselin banget kan.
Setelah nunggu sekitar 45 menit, untung banget akhirnya ada taksi yang mau ngangkut kita, soalnya katanya bapaknya baru aja keluar dari pangkalan. Aah, untung banget. Dari awal aku udah tahu, ini pasti perjalanan pulang macet banget nih. Secara hari Jumat jam 6 sore dan kawasannya kawasan langganan macet, this is gonna be a long ride.
Biasanya, I’m just gonna play with my phone atau tidur sampe nyampe di kos. Tapi, kali ini enggak. Aku beneran penasaran dengan jumlah setoran buat supir taksi konvensional. Naaah, berawal dari situ, aku jadi cerita-cerita buanyaaak banget sama supirnya (namanya Pak Eko). Orangnya udah lumayan tua, kayaknya sekitar 45 tahun ke atas. Tapi beliau loyal sekali sama pekerjaannya, bahkan nolak untuk beralih ke taksi online macam Uber atau Grab.
Sebagai milenial, tentunya buatku taksi online itu sangat sangat membantu. Jujur aja, kalo dengan gaji yang sekarang sih aku belum sanggup kalo kemana-mana harus pake taksi biasa. Jadi biasanya aku pake ojek online yang harganya murah banget kayak naik angkot. Tapi, dari cerita-cerita Pak Eko, aku jadi kagum banget sama Blue Bird. Percayalah, ini bukan promosi. Ini karena untuk pertama kalinya, aku paham kenapa taksi Blue Bird harganya lebih mahal dibandingkan yang online, dan bagaimana Blue Bird bisa jadi taksi terdepan di Indonesia.
Misalnya, tahukah kamu kalo Blue Bird punya tempat khusus (biasa disebutnya mess) di penjuru Jakarta, yang fungsinya adalah untuk tempat istirahat buat para supir kalo mereka tiba-tiba capek di jalan? Yep, jadi di mess ini biasanya dikasi kasur-kasur gitu yang boleh dipake siapapun kalo mereka lagi ngantuk atau penat banget.
Tahukah kamu kalo di Blue Bird, supir gak boleh nyetir lebih dari 12 jam? Ini juga karena mereka sangat mentingin keselamatan. Meskipun supirnya pingin banget kerja, tapi sistem Blue Bird gak mengijinkan mereka untuk online lebih dari 12 jam. Jadii, setiap selesai keliling 12 jam, mereka harus istirahat/rehat selama 4 jam dulu, baru bisa keliling lagi. It sounds like a simple thing, but I am actually impressed. Ini berarti mereka memang concern dengan kesehatan para pengemudinya.
Lalu, tahu gak bahwa di Blue Bird, semua pengemudi punya batas 3 peringatan sebelum mereka dinon-aktifkan secara permanen? Mereka gak boleh ngerokok di mobil, dan bahkan gak boleh ngerokok di pangkalan. Mereka cuma boleh ngerokok di tempat-tempat tertentu kayak kantin. Penumpang Blue Bird juga sebenernya gak boleh ngerokok di dalem mobil. Dan ini salah satu yang aku suka, karena bikin mobil ga bau untuk penumpang selanjutnya.
Tahu gak bahwa semua mobil Blue Bird itu dicuci, dibersihin, disemprot, di-vacuum, sampe dikasih kapur di bawah joknya biar gak ada kecoa atau binatang-binatang lain? Ada tim khusus yang ngelakuin ini TIAP HARI. Wow. Kebayang gak sih berapa banyak tenaga dan waktu yang mereka curahkan just to make sure that we get a clean ride? Kata Pak Eko, sebelum berangkat dari pangkalan, mereka boleh ambil pewangi buat taksi mereka. Terus, di pangkalan juga disediain kamar mandi dengan berbagai sabun dan shampoo, pokoknya gimana caranya biar pengemudi Blue Bird juga tetep rapi dan wangi. They are so committed to maintain their quality.
Pak Eko juga cerita, kalo di Blue Bird, komunitas mereka kuat. Kalo ada temen mereka yang curang (misalnya gak nyalain argo), mereka bisa laporin temen mereka itu dan dapet imbalan 250rb. Jadi mereka emang saling jaga satu sama lain, harus saling ngingetin untuk gak ngelanggar peraturan.
Lalu, Blue Bird juga gak mengijinkan supirnya untuk "ikut campur" pembicaraan penumpangnya, selain kalo diajak omong secara sengaja. Jadi misalnya aku naik taksi, lalu aku main hape terussss, nah mereka technically gak boleh ngajak aku ngomong karena mereka tau aku gak mau diganggu. Atau kalo misalnya aku lagi ama temen terus lagi ngobrolin soal film terbaru, mereka juga gak boleh ikutan nimbrung (beda bangeeet kaaaan sama pengemudi taksi online yang sering nimbrung pembicaraan kita). Karena mereka sangat menjunjung kesopanan dan kenyamanan buat penumpang. Jadi mereka cuma bisa ngobrol kalo memang penumpangnya ngajak ngobrol.
Woahhhh, pokoknya banyak banget deh yang hal-hal yang aku dapetin dari hasil ngobrol sama Pak Eko. Ya iyalah, kita stuck di kemacetan sampe 2.5 jam lamanya, jadi kita bisa ngomong ngalor ngidul sampe kemana-mana. Bahkan, diceritain juga beberapa peristiwa mistis yang pernah dialamin ama supir Blue Bird, mulai dari digangguin hantu sampe nganter penumpang yang "antara ada dan tiada". Serem banget sumpah cerita-ceritanya.
Anyway, I learned a lot from Pak Eko. Di saat temen-temennya pada "tergiur" buat pindah jadi taksi online, dia keukeuh setia di Blue Bird karena dia merasa hajat hidupnya sangat dibantu sama perusahaan. Dan dia cerita juga kalo sekarang banyak temen dia yang gak bisa bayar cicilan mobil karena lebih besar pasak daripada tiang. Pak Eko orangnya gak aneh-aneh. Dia gak pernah pilih-pilih penumpang, soalnya kasian kalo mikirin nanti penumpangnya naik apa.
Tahukah kamu kalo dalam sehari – dipotong dengan setoran, bensin, dan lain-lain – seorang supir kayak Pak Eko paling bisa nyimpen 100-200ribu saja? That’s like 3-6 million per month, but they have to battle everyday in a traffic jam, rain, and all the risks of being on the road.
Jadi, I want to give you two messages. First, after a 2.5-hour convo, I feel so refreshed and happy, because we shared a lot of stories. Pak Eko admits that he is also really happy if he can talk with his riders. So if you ride a taxi, let’s give them an appreciation by talking to them. Anything is fine, but let’s not treat them like they’re invisible. That’s a self-correction for me too, who is always playing with my own world.
Second, I know it’s not a tradition in Indonesia to give tips. But why don’t we make it as a habit, especially if we get a very special service from someone. This does not only apply to taxi, it could be anything. Kemarin setelah nganter aku dan kena macet 2,5 jam, tarif taksinya cuma 100ribu. Bayangin. Berarti Pak Eko harus kerja berapa lama lagi sebelum dia bisa lunasin setoran untuk hari itu. So, extra penny will always be treasured. Kita bisa kasih berapa aja, 5 ribu, 10 ribu, 50 ribu. But this way, they’ll know we appreciate their service. An extra penny might be less valuable to us, but it might mean the world for them.
I learned a lot of lessons today. And sometimes, you can get lessons from anywhere and anyone. Just be open minded and stay curious!
Follow me on Instagram @Falen_Naoenz or find me chirping at Twitter @Vanilla_Naoenz
Disclaimer: The opinions expressed in this article are the author’s own and do not reflect the view of any agency or organization that the author has association with.
Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment