Surat pada Universa (2)
Aku punya kebiasaan aneh. Aku hanya bisa menulis ketika sedang sendirian. Seperti sekarang, ketika suara jangkrik dari rumah seberang terdengar.
Aku punya kebiasaan aneh. Aku hanya bisa menulis ketika sedang sendirian. Seperti sekarang, ketika suara jangkrik dari rumah seberang terdengar.
When I started this year, I thought my lifelong dreams were about to come true. But it’s all about to get tossed when the coronavirus suddenly came.
Malam ini hujan turun.Dan kalau ada kamu, aku pasti bergelung. Manja. Hangat. Aman. Kamu adalah rumah. Dekapanmu membuatku menutup mata.
Kebahagiaan itu bisa sesederhana itu, ternyata. Hidup mungkin telah merubahku di beberapa bagian. Tapi ia pun selalu mengingatkan aku akan hal-hal terbaik.
It’s scary what love can do to you. I can only love you. I can only love you as best as I know how. The rest of it, I have absolutely no control.
I was trying to remember all the details, because I know it’s gonna be my last one. And when you know it’s gonna be the last time, you start paying attention to everything.
People often think that heartbreak is like a storm. To some extent, it makes sense. But I’d rather believe that heartbreak is an ocean.
Ketika mendengar Bandung, tidak pernah sekalipun terbersit tentang Gedung Sate. Yang aku ingat adalah pemandangan kota dari sudut jendela kamar.