Let's explore the world

Follow us

A Story of Strawberry Milk - Wandersmurf
1078
post-template-default,single,single-post,postid-1078,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

A Story of Strawberry Milk

A Story of Strawberry Milk

Dua anak memasuki toko.
Pakaian mereka lusuh, dan warna kulitnya kusam. Kakak beradik mereka. Sang kakak merangkul adik sambil tangannya tersimpan dalam kantung celana yang sedikit sobek.
Lalu ia bilang, "Mau beli susu stroberi." Sambil tertawa. Ompong. Giginya pun tak terawat. Lalu, ia merogoh koin koin dan uang dari kantungnya. Dihitungnya pelan-pelan.

"Segini, cukup nggak?" Aku mengangguk. Ya sudahlah. Kurangnya tak seberapa. Lalu dia berikan susu stroberi itu ke adik kecilnya. Yang sudah menatap dengan tampang penuh harap. Sepertinya kehausan. Dengan senyum bangga ia tancapkan sedotan ke susu kotak yang masih dingin. Lalu ia sodorkan ke adiknya. Dan berjalan kembali ke jalan raya.

Tertatih. Dengan kakinya yang pincang sebelah. Tapi aku mendengar tawa mereka dari kejauhan.

Lalu aku tertegun. Dan aku menitikkan air mata. Juga ketika aku menulis ini.
Kadang, ketika kehidupan mulai terasa menyulitkan, atau menakutkan, aku ingat cerita ini. Hari yang tak pernah terlupa. Karena dari situ aku belajar bahwa kebahagiaan bisa datang dari mana saja. Bahkan dari sekotak susu stroberi yang harganya hanya empat ribu perak.
Lalu dari situ aku belajar untuk selalu memberikan uang lebih pada yang membutuhkan. Iya, mulai dari tukang sapu, tukang parkir, atau pengemudi taksi. Asal ia mencari kerja dengan cara yang halal, mereka punya harga diri. Dan orang-orang di sekitar selalu menegurku. Karena mereka bilang aku boros. Buang-buang uang. Lebih baik uangnya ditabung. Tapi sebenarnya, aku selalu ingat suatu hari ayahku pernah bilang, "Uang segitu tidak akan membuat kita miskin. Dan tidak akan membuat mereka kaya." Dan hingga kini, kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di pikiranku.
Kadang aku ingin marah pada orang-orang yang terlalu pelit. "Ah, ya sudahlah.. Kan sudah kerjaan mereka." "Udah, gak usah dikasih lebih. Nanti malah keenakan…" "Ya kalau gak mau dibayar murah ya sekalian aja jangan kerja" Tapi bukan begitu. Aku pernah tinggal di rumah keluarga yang sangat tidak mampu. Yang harus memecah batu sebanyak satu kilo, hanya untuk dapat uang tiga ribu. TIGA RIBU! Kamu bisa bayangkan? Itu uang yang kita buang percuma untuk memarkir mobil di pinggir jalan, atau untuk dibelikan gorengan sebagai cemilan. Bagi mereka, tiga ribu sangat berharga. Bisa dibelikan singkong dan tempe untuk makan di hari itu.
Aku selalu berusaha memberikan lebih, jika aku bisa. Masalah nanti uangnya mau dipakai apa, itu terserah mereka. Tapi uang lebih itu bisa menjadi susu kotak stroberi untuk sepasang kakak beradik yang lain. Untuk para tukang ojek, tambahan lima ribu bisa dibuat membelikan mainan lucu untuk anaknya yang baru lahir. Untuk para tukang parkir, uangnya mungkin bisa dibelikan buku TTS yang mengisi hari-hari mereka. Untuk penjual makanan, uangnya mungkin bisa dibelikan kaus baru untuk Lebaran bersama ayah ibu di kampung. Apapun itu, uang itu lebih berguna untuk mereka dibandingkan untuk aku.
Jadilah murah hati. Kita tidak tahu seberapa tindakan kecil kita bisa membahagiakan seseorang.
Seribu, lima ribu, lima puluh ribu. Jika kamu berkelebihan, hendaknya kamu membantu yang masih berkekurangan.
Follow me on Instagram @Falen_Naoenz or find me chirping at Twitter @Vanilla_Naoenz
Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment