Let's explore the world

Follow us

Pengalaman Operasi Gendang Telinga - Prof Helmi di SS Medika
1572
post-template-default,single,single-post,postid-1572,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

Pengalaman Operasi Gendang Telinga – Prof Helmi di SS Medika

Pengalaman Operasi Gendang Telinga – Prof Helmi di SS Medika

Setiap kali orang tanya, “Is there anything you regret?” Aku pingin jawab, “Tanggal 2 Januari 2017“.

Waktu itu aku males banget pergi ke Hawaii Waterpark yang ada di Malang. Tapi gara-gara saudara dan sepupu semuanya pergi, jadilah akhirnya aku ikutan pergi. Long story short, salah satu wahana di Hawaii Waterpark adalah Tsunami Pool, dan itu ombaknya kenceng banget. Terus begitu kena ombak, aku langsung ngerasa ada yang nggak beres sama kuping. Kayak kemasukan air tapi sakit dan kerasa nyut..nyut.. 

Tsunami Pool di Hawaii Waterpark

Tsunami Pool di Hawaii Waterpark

Dari sakit itu akhirnya malemnya langsung ke dokter THT. Pas diliat ternyata bener kuping kanan kena hantam air terlalu kenceng, jadinya infeksi. Tapi nggak berapa lama, kira-kira 2 minggu kemudian, gendang telinga malah bolong. Rasanya mau nangis pas dikasitahu sama dokter. Soalnya gendang telinga orang dewasa itu nggak bisa tumbuh lagi, paling banter cuma bisa ditambal.

Permasalahan Gendang Telinga Berlubang

Gendang Telinga Berlubang

Nah, kalau gendang telinga udah berlubang, ada banyak banget lah masalahnya. Yang pertama, pasti jadi kurang sensitif sama penangkapan suara (hearing loss). Apalagi karena pas kecil kuping udah pernah infeksi gara-gara pilek, jadi pendengaran di kuping kanan otomatis jauh lebih jelek dibandingkan yang masih normal. Kerasa banget kalau nonton TV dengan volume minim, kepalanya harus miring ke kanan biar telinga kiri bisa mendengarkan dengan lebih jelas.

Tapiii, nggak cuma itu aja. Kalau gendang telinga berlubang, kita jadi congekan. Karena gendang telinga itu kan fungsinya untuk melinfungi organ telinga di bagian dalem, jadi kalau berlubang, otomatis bakalan infeksi karena terpapar sama berbagai debu dari luar. Kalau dipikir-pikir congekannya lumayan parah, setiap dua jam sekali pasti kuping kerasa berair gitu dan harus dilap pakai tisu. Biasanya cairan yang keluar dari telinga infeksi warnanya putih semacam nanah. Duh, sedih kalau nginget-nginget lagi 🙁

Paling parah permasalahannya adalah kalau bergaul sama orang-orang yang merokok. Nggak tahu kenapa, tiap ngobrol atau tidur sekamar sama saudara yang ngerokok, pasti setelah itu congekannya parah banget sampe kuping rasanya ketutup sebelah (bindeng). Itu rasanya nggak enak banget, nggak bisa kerja, nggak bisa beraktivitas kayak normal, mau denger apa-apa pun susah. Mungkin karena asep rokok kan kotor, jadi bisa sampai masuk ke bagian dalem telinga gitu. Entahlah, yang penting ganggu banget 🙁

Rencana Operasi di Prof Helmy di SS Medika

Prof Helmy di SS Medika

Sebelum ke SS Medika, aku pernah berobat beberapa kali di RS THT di Ciranjang, tapi pelayanannya kurang memuaskan. Dokter THT-nya nggak pernah kasih penjelasan yang jelas, terus suka dateng terlambat buat praktik, jadi harus nunggu lama. Yang paling kerasa perbedaannya sih masalah harga. Soalnya dengan pakai asuransi kantor yang sama (BNI Life), sekali berobat di RS THT Ciranjang, aku harus nombok minimal Rp 250 ribu. Sementara kalau di SS Medika, untuk check-up biasa cuma perlu nombok sekitar Rp 100 ribu. Lumayan banget kan bedanya bikin tabungan anak kos terkuras.

Nah, akhirnya pas googling suatu hari aku nemu blog cerita tentang pengalaman operasi sama dokter THT, namanya Prof dr. Helmy. Terus karena penasaran, langsunglah bikin janji malem itu juga. Nelpon jam 10 pagi, dapet antriannya udah sekitar 50 ke atas, dan disuruh dateng jam 12 malem. Yup, jam 12 malem coy! Tapi untungnya aku emang sering begadang sampai jam 2, jadi nggak masalah kalau berobat tengah malem.

Begitu masuk dan ketemu sama Prof Helmy, orangnya baik dan ramah banget sumpah. Padahal dia baru aja nanganin sekitar 60an pasien lho, di jam 12 malem, dan masih bisa ramah. Terus setelah cek kuping, beliau nyaranin untuk operasi tympanoplasty atau operasi tambal gendang telinga. Kalau ditambal, bisa bikin pendengaran membaik gak dok? “Kemungkinan besar iya. Tapi, kalau nggak ditambal, makin tua bakalan makin parah budeknya,” kata Prof Helmy.

Syarat Operasi

Nah, syarat untuk operasi tambal gendang telinga itu sebenarnya mudah, cairan congeknya harus bener-bener dihentikan dulu. Jadi, telinga kita harus dalam kondisi yang bener-bener kering supaya bisa dioperasi. Karena waktu itu aku jarang pakai obat dan lagi congekan, sama Prof Helmy dikasih resep obat Tarivid untuk ditetesin di kuping tiap hari. Ampuh banget obatnya karena cuma dalam sehari cairan congekan udah nggak keluar, jadinya mengering gitu. Kira-kira setelah sebulan bolak balik check-up dan menyesuaikan jadwal operasi, akhirnya sepakatlah: operasi tambal gendang telinga di tanggal 31 Oktober 2018.

Oh ya, untuk operasi tambal gendang telinga, kita cuma bakal opname 1 hari di RS kok. Durasi operasinya sekitar 1,5 jam dan harus bius total.

Tes Sebelum Operasi

Sebagai orang yang nggak pernah berurusan sama rumah sakit, bahkan jarang banget ke dokter, rasanya serem aja kalau denger kata “operasi”, “opname”, “tes darah”, dan sebagainya. Di H-1 operasi, aku diminta suster untuk dateng dan harus tes segala macem untuk memastikan bius totalnya nggak akan berdampak buruk. Kalau di SS Medika, biaya operasinya udah termasuk sama biaya tes juga. Cuma, karena fasilitas tes mereka lagi direnovasi, pasien operasinya bakal dibawa ke Prodia, partner mereka.

Penanganan dari suster-susternya SS Medika ini keren dan profesional banget. Mereka nganterin kita, ngurus semua berkas administrasi, nemenin kita tes satu per satu, bahkan mereka juga bisa minta supaya tes kita dicepetin sama si Prodia ini, biar kita juga nggak nunggu lama. Susternya ramah, sopan, dan helpful banget pokoknya. Mereka sampe nawarin nomor Whatsapp segala, supaya kita gampang komunikasi atau kalau mau tanya-tanya sesuatu tentang operasi besok.

Dari jam 9 pagi, kira-kira serangkaian tes itu kelar jam 11. Hasil tesnya bakal keluar di hari yang sama, tapi kita nggak perlu ngambil. Nanti suster dari SS Medika yang bakal ngambil hasil tes kita. Lalu, kalau ada masalah kesehatan yang kira-kira bisa bikin operasi tympanoplasty-nya berbahaya, nanti kita akan ditelpon untuk pengarahan lebih lanjut. Untungnya waktu itu nggak ada masalah apa-apa, cuma masalah sinus, jadi operasi pun bisa lanjut.

Operasi Tambal Gendang Telinga

Operasi tambal gendang telinga

Pagi-pagi di hari H operasi, aku dateng sekitar jam 9 pagi. Terus langsung disuruh untuk ganti baju pasien dan dibawa ke ruang operasi. Rasanya serem tapi sekaligus lumayan lega. Akhirnya masalah kuping selesai juga habis ini. Nah, pas masuk ke ruang operasi itu aku udah nggak inget apa-apa lagi. Bener-bener blacked out!

Pas bangun tidur, rasanya efek bius masih berat banget, jadi ngomongnya ngelantur dan nggak terarah. Baru melek 10 menit, terus tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi, kayak gitu terus hampir setengah hari. Anehnya, tenggorokan rasanya sakit banget kayak mendadak kena radang tenggorokan. Pas ditanya ke suster baru deh dijelasin kalau pas operasi itu, semua organ-organ kita dibantu bergerak pakai mesin, termasuk untuk bernapas. Kalau istilah di Grey’s Anatomy namanya intubation, dimana ada pipa yang dimasukin ke tenggorokan kita supaya kita bisa bernapas dan dikasih obat pas operasi. Sakit tenggorokan ini parah banget soalnya bikin nggak bisa makan apa-apa. Di hari pertama kita dikasih makanan lunak kayak bubur sama nasi tim. Tapi hari berikutnya pas udah dikasi nasi, rasanya tersiksa gara-gara mau nelen aja susah.

Prof Helmy dateng ke kamar beberapa kali untuk ngecek, kira-kira ada masalah atau nggak. Katanya sih operasinya udah berjalan lancar dan nggak ada hambatan. Cuma habis operasi, mataku sempat bengkak – katanya karena alergi sama obat biusnya. Tapi nggak lama kemudian udah ilang kok.

Pasca-Operasi

Oh ya, kalau habis operasi tambal gendang telinga, nanti di telinga kita itu ada 3 lapisan kapas. Yang pertama bakal dicabut sehari setelah operasi. Yang kedua dicabut di hari kelima, terus lapisan terakhirnya dicabut di hari ke-10 setelah operasi. Setelah operasi, kuping dilarang kena air sama sekali, jadi harus ditutupin (biasanya aku pakai penutup telinga yang ada di salon buat nyemir rambut). Terus selama 10 hari itu nggak boleh terbang naik pesawat dulu, soalnya tekanan di kabin pesawat bisa bikin tambalannya lepas.

Waktu itu tambalanku sempat lepas gara-gara bandel naik pesawat ke Bali buat dateng ke nikahan temen. Sama Prof Helmy terus dijadwalin operasi sekali lagi untuk nambal lubang itu. Kali ini, operasinya minor banget dan nggak perlu pakai bius total, cuma pakai bius lokal di sekitar kuping. Tetep aja, rasanya serem waktu baring di kamar operasi dan ngeliat jarum, pinset, sama alat-alat operasi yang lain. Kira-kira operasinya sekitar 1 jam, terus baru akan dilihat tambalan ini efektif atau enggak.

Aku jadi dag-dig-dug karena tanggal 24 November mau berangkat ke Vietnam lagi pake pesawat. Jadi, tambelannya harus bener-bener udah oke sebelum berangkat. Untungnya pas pemeriksaan terakhir Prof Helmy bilang tambalannya udah kelihatan bagus. Aku juga lihat gendang telinganya udah tertutup lagi, nggak berlubang. Tapi biar aman, tetep harus check-up lagi setelah pulang Vietnam, takutnya tekanan udara di pesawat bikin bolong lagi. Untungnya setelah dicek terakhir, tambalannya ternyata bekerja dengan baik. Yeeeeey! Setelah dua tahun hidup dengan gendang telinga berlubang, akhirnya bisa ngerasain gendang telinga normal lagi!

Review Pengalaman dan Harga Operasi

Prof Helmy baik dan ramah banget. Semua pertanyaan kita pasti bakal dijawab dengan sabar (sebodoh apapun pertanyaannya). Terus, pengalaman operasi di SS Medika memuaskan banget. Susternya baik dan kooperatif, nggak sombong dan jutek kayak di RS-RS lain. Semuanya juga dihandle dengan profesional, mulai dari check-up sampe klaim asuransi. Pokoknya mereka bener-bener ngelakuin yang terbaik buat pasien deh.

Untuk rincian harga operasi tambal gendang telinga bisa dilihat di sini:

Biaya Operasi Gendang Telinga

Total biaya operasinya (termasuk biaya check up pasca operasi) sekitar 35 jutaan. Waktu itu ada kelebihan dari jumlah yang boleh diklaim dari asuransi kantor, jadi aku harus nambahin sendiri sekitar 4 jutaan. Harga 4 juta buat operasi once-in-a-lifetime sama dokter THT sejago dan sekelas Prof Helmy sih WORTH IT BANGET.

Semoga cerita pengalaman ini berguna buat yang lagi mengalami hal yang sama, ya! Kalau ada masalah gendang telinga berlubang atau permasalahan THT lain, cobain deh konsultasi ke  Prof Helmy di SS Medika. Ini bukan artikel bayaran, bukan endorsement, ini murni cerita pengalaman positif. Semoga SS Medika dan Prof Helmy sukses terus! Thank you for fixing my ruptured eardrum! 

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
1 Comment
  • HERI DWI SULISTYO
    Posted at 05:58h, 18 March Reply

    Mbak,

    Saya Heri. Usia 32 th. Saya direkomendasikan untuk operasi telinga kanan juga. Boleh kah sharing via WA. Saya cukup khawatir dg kondisi telinga kanan saya.

    Salam kenal.
    Heri (08119111146)

Post A Comment