Let's explore the world

Follow us

Tuhan Setiap Manusia Berbeda-beda - Wandersmurf
35
post-template-default,single,single-post,postid-35,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

Tuhan Setiap Manusia Berbeda-beda

Tuhan Setiap Manusia Berbeda-beda

Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwasanya agama – dan Tuhan termasuk di dalamnya – adalah hal yang bisa diperdebatkan.
Ratusan kali bahkan.
Hidup dalam lingkungan yang cukup religius – dan pernah juga menjadi umat yang sangat religius di suatu masa – saya sadar bahwa agama telah merasuk ke kehidupan manusia seperti halnya kaldu yang meresap penuh ke sup sumsum. Nikmat. Mantap. Tapi tidak semua orang menyukainya.
Ketika banyak yang bertanya, "Kenapa kamu seperti ini?" Seolah-olah "seperti ini" adalah sebuah keanehan yang lebih buruk di dalam masyarakat munafik yang bertopeng agama tapi tak pernah mengamalkannya.
Saya menjawab, "Karena Tuhan tak cukup dijelaskan dengan satu kata."
Karena jutaan menyebutnya sebagai "He", "Bapa", "God", "Tuhan", "Yahwe", dan segala macam kata lain yang kurang lebih merujuk pada suatu hal yang sama. Seolah-olah ia bisa dinamakan sesuka kita.
Seolah-olah ia adalah benda solid yang berwujud di alam semesta.
Bagaimana kalau… Tuhan adalah alam semesta itu sendiri? Universa dengan segala keajaiban alam yang siap mengamuk atau memberi berkat pada setiap usaha.
Tapi nyatanya, setelah berkontemplasi lama dan terombang-ambing dalam perdebatan tentang agama – pernah juga bertengkar dan dibenci – karena perbedaan pandangan yang ekstrem, saya lalu sampai pada satu kesimpulan:
Sesungguhnya Tuhan untuk setiap manusia berbeda-beda.
Untuk kebanyakan orang, Tuhan adalah pengabul permintaan. Mereka minta, mereka tunggu jawaban. Semoga jawabannya "iya".
Bagi hampir 90% penduduk di muka bumi ini, Tuhan adalah uang. Untuk makan, hidup, bersenang-senang, dan menghidupi keluarga. Bagi pemabuk, Tuhan adalah alkohol. Siap mengangkat mereka ke alam yang "lebih tinggi" dan membebaskan mereka dari segala permasalahan duniawi. Bukankah itu yang semua orang inginkan? Lepas dari penderitaan di dunia dan pergi ke tempat penuh kebebasan dan bahagia selamanya?
Bagi si calon presiden ataupun CEO ambisius, Tuhan adalah power. Kekuatan untuk memerintah. Dan kekayaan yang dihasilkan dari itu. Kekuatan untuk membuat orang lain menuruti apa yang mereka mau.
Pendeknya, mereka juga ingin merasakan jadi Tuhan. Setidaknya, Tuhan untuk beberapa ratus orang karyawan.
Bagi ibu, Tuhan adalah anaknya. Ia rela melakukan apapun, bahkan mengorbankan nyawa. Tak peduli salah atau benar, ia selalu membela dengan sepenuh hati. Bahkan kadang – setengah terbutakan.
Bagi sebagian orang, Tuhan adalah penampilan luar. Dan kamu bisa mendapatkannya, dengan tas Hermes terbaru atau eyeliner lancip berharga ratusan ribu. Semua usaha hidup, dan kerja keras, akan bermuara pada: penampilan yang lebih sempurna lagi dari hari kemarin!
Bagi para milenials yang kecanduan, Tuhan adalah Instagram.
Setiap tombol hati yang bertambah membuat mereka makin bahagia.
Lebih membahagiakan dari mengulang doa di ruang ibadah yang lapuk dan berdebu. Apalagi kalau

rumah ibadahnya tak Instagram-able.
Cih, apa bagusnya?
Bagi si pebalet, Tuhan adalah Croise, Pirouette dan Grande Jete. Kunci gerakan anggun yang memukau.
Gerakan yang mereka latih dengan ratusan kali kaki yang terseleo dan otot yang linu.
Sebenarnya, saya sangsi ada satu wujud yang menggerakkan semua kebutuhan manusia layaknya boneka panggung dengan tali.
Sebenarnya, saya lebih percaya bahwa manusia punya Tuhan yang berbeda-beda, sesuai keinginannya sendiri.
Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment