Let's explore the world

Follow us

Adult Relationship

Because of You

Adult Relationship

Hari ini, pukul 12 siang. Seperti biasa, aku dan teman-teman kantor mengelilingi meja makan dengan semangat menggebu. Tak sabar memuaskan rasa lapar dengan hidangan dari kantin SD sebelah. Nasi padang, sate, ayam geprek, hingga telur gulung.

Di tengah-tengah obrolan, kolegaku memberitahu bahwa si A baru saja putus hubungan setelah tiga tahun berpacaran. Yang tentu kusambut dengan teriakan HA!! sekencang-kencangnya. Tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa lagi.

Dari situ, cerita bermula. Kami mulai berdiskusi panjang tentang hubungan dewasa. Adult relationship. It’s so goddamn hard, right?

Ada yang sedang bertengkar hebat. Ada yang sudah bercerai. Ada yang sedang menunggu kejelasan status pernikahan. Ada yang belum punya pasangan. Ada yang bosan. Ada yang putus-sambung tanpa tahu dimana akhirnya. Ada yang beda agama. Ada yang berjuang mempertahankan hubungan jarak jauh. Ada yang berselingkuh. Ada yang diselingkuhi.

Ternyata, kita semua punya beban yang sama, kan? Dulu semuanya terlihat sederhana. Dulu kita menyukai cowok jagoan basket, atau ketua OSIS. Dulu kita hanya peduli pada nomor absennya, pada makanan kesukaan atau hobinya.

Tapi sekarang, menjalin hubungan tak semudah membalikkan telapak tangan, tak semudah mengirimkan pesan cinta di tengah kelas yang sedang berlangsung, tak semudah mengirimkan cokelat di Hari Valentine. Hubungan orang dewasa punya seribu lika-liku, dinamika, pertengkaran, debat kusir, hingga puluhan hati yang patah. Hubungan orang dewasa harus berurusan dengan jarak, cita-cita, anak, rumah tangga, hingga… uang.

Perkara yang komplit. Aku hanya bisa menghela napas panjang. Memutar balik apa yang terjadi beberapa tahun terakhir. When do we grow up so fast?


Aku masih muda, masih tauge kalau dibandingkan dengan teman-teman kantorku yang sudah menjalani kehidupan pernikahan puluhan tahun. Mereka sudah makan asam-garam hubungan dewasa, pahit-manis, luka dan tawa.

Tapi mungkin, ada satu hal yang paling aku percaya.
Love is a verb, not a noun, let alone an adjective.

And since it’s a verb, you do it. You have to work for it.
You have to put the work in every single day, even when you feel “not-in-the-mood”, angry, upset, or disappointed. You have to decide that you want to make it work.

Susah memang, menemukan pasangan ideal di sekitar kita. Semua pasangan punya kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing. Tapi setidaknya, kita semua pernah berjuang mewujudkannya. Menjalin hubungan dewasa yang bahagia.

It’s super hard. It’s not for everyone.
But I’m sure it’s worth the fight.
You just have to find the one who’s willing to fight dragons with you.

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment