Let's explore the world

Follow us

Let Her be an "Airbnb Explorer" - Wandersmurf
344
post-template-default,single,single-post,postid-344,single-format-gallery,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

Let Her be an “Airbnb Explorer”

Let Her be an “Airbnb Explorer”

Setelah sekian lama ngubek-ngubek aplikasi Airbnb dan lumayan keranjingan sama rumah-rumah unik orang-orang yang ada di dunia ini, akhirnya kemaren kesampean juga buat nginep di Airbnb. Uhuuuu yey!

Mendekati weekend di Bandung, akhirnya nyari-nyari hotel atau Airbnb dan coba banding-bandingin harga. Tapi karena udah lumayan hapal sama hotel-hotel yang ada di Bandung, akhirnya aku memutuskan buat nyobain nginep di Airbnb.

You know what really excites me? Gilak ya! Jaman sekarang kita gak takut untuk hop on to a stranger’s car, dan bahkan nginep di rumah orang yang gak dikenal! And all of that is because of the technology. Jaman dulu aja, orang-orang pasti ketakutan setengah mati kalo harus naik mobil atau nginep di rumah orang yang gak dikenal. Gimana kalo dirampok? Gimana kalau disekap? Diculik?

Tapi dengan adanya Uber, Gojek, Airbnb, dan semua jenis sharing-economy ini, kita jadi makin terbiasa dengan ‘berkenalan’ untuk jadi bagian dari komunitas saling berbagi ini. Sungguh. Andai aku punya properti yang layak ditinggalin dan gak macam kapal pecah, aku mau banget buat masuk Couchsurfing atau nyewain kamar di Airbnb. I don’t aim for the money. Tapi aku seneng banget aja bisa jadi bagian komunitas berbagi internasional ini. Yang kita bisa tiba-tiba jadi temen baru, keluarga baru, dan bisa ikut sarapan bareng atau jadi tour guide mendadak.

The world is changing, in the most favorable way. Kita jadi makin dekat dengan orang-orang yang mungkin tinggal separuh globe jauhnya. Kita jadi terbiasa terekspos dengan budaya dan karakteristik orang yang berbeda-beda. Pikiran makin terbuka. Bumi tuh bukan Indonesia doang, bukan Bandung doang, dan bukan Jakarta doang. Masih banyak yang bisa diliat, masih banyak yang bisa dinikmati, masih jutaan hal yang bisa bikin kita makin cinta sama hidup.

Lah, gak mendingan tinggal di hotel aja? Emang sih, hotel itu punya standar kebersihan yang gak bisa dikalahkan apa pun. Dari negara kurang maju sampe negara paling maju di dunia pun, yang namanya hotel bintang lima ya pasti bagus, pasti bersih, dan pasti standar kenyamanannya nomer satu. Tapi ada yang kurang 🙁 Hotel gak punya sentuhan personal. Yang ada cuma kasur empuk berseprei putih, furnitur minimalis elegan, TV, telepon, syukur-syukur dapet bathtub, kalo enggak yang shower aja. Sedangkan kalau di Airbnb, banyak ‘personality’ yang bisa kita liat. Mulai dari selimut yang dirajut sendiri, sampe pajangan gambar-gambar dari anaknya TK sampe kuliah. Ada yang rumahnya minimalis macam orang Jepang, ada yang apertemennya ngadep Eiffel persis, ada yang kasurnya ala ala Tumblr, dan bahkan ada yang rumahnya antah berantah di pedalaman Iceland.

Ah, exciting!

Seneng banget kemaren bisa ngerasain tinggal di Airbnb. Makin ketagihan buat nge-save rumah2 orang di Wishlist Airbnb. Makin suka eksplor rumah-rumah unik orang yang ada di muka bumi ini. Live like local, as they said.

I love you Airbnb! Thank you for bringing a revolutionary thinking to our lifetime.

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment