Let's explore the world

Follow us

Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP (yang Tidak Menyenangkan)

Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP (yang Tidak Menyenangkan)

Siapa sih yang nggak tahu beasiswa LPDP di Indonesia? Ini beasiswa impian banget buat semua pemuda-pemudi Indonesia yang pingin lanjutin kuliah dengan beasiswa penuh, terus bisa pilih juga mau di luar atau dalam negeri. Dari tahun ke tahun ada puluhan ribu orang yang daftar beasiswa LPDP, tapi ya hanya sedikit yang bisa lolos. Aku tidak termasuk diantaranya. Huehuehuehue.

Tapi gapapa, kalau menurut tatonya Rihanna, never a failure, always a lesson. Pengalaman kegagalan ikut seleksi kan bisa aja jadi pelajaran untuk orang-orang lain. Jadi kali ini aku mau cerita sedikit tentang pengalaman seleksi beasiswa LPDP – yang menurutku pribadi (gak tahu orang lain gimana), sangat tidak menyenangkan.

Background sedikit: aku sempat mendaftar di 5 beasiswa berbeda, yaitu Chevening, LPDP, Swedish Institute Scholarships for Global Professionals (SISGP), VLIR-UOS (Belgium), dan New Zealand Scholarship (NZS). Dari kelima itu, aku juga pernah mengikuti proses seleksi & interview untuk Chevening, VLIR, dan NZS. Jadi kurang lebih ada perbandingan sedikit dengan skema beasiswa luar.

Dari dulu banget, aku memang bercita-cita bisa keterima LPDP, terutama untuk kuliah sustainable tourism di UK. Tapi ternyata oleh semesta aku dikasih kesempatan untuk belajar di New Zealand, instead. Dan aku harus mengakui, aku bersyukur banget bisa dapet New Zealand Scholarship pada akhirnya. Nanti aku ceritakan kenapa ya!

Nah sekarang, mau cerita dulu pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan selama seleksi beasiswa LPDP:

  1. Pilihan kuliah yang makin dibatasi (apalagi untuk jurusan sosial)

Indonesia ini negara kaya raya, pingin pembangunan cepat, tapi terlalu fokus sama pembangunan fisik, bukan ke pembangunan sumber daya manusia. Hal ini terrefleksi banget dari pilihan jurusan dan universitas LPDP yang sangat sangat dibatasi, kebanyakan jurusannya adalah jurusan IPA. Kalaupun ada jurusan IPS, kita harus keterima dulu di kampus top 10 dunia. Padahal ya, gak semua jurusan di top 10 kampus itu top. Ada banyak banget jurusan IPS yang lebih bagus di kampus2 tier-2 dan tier-3.

Tapi untuk poin ini nggak apa-apa, bukan masalah besar. Aku cuma sedih aja, sebagai anak IPS, bener-bener merasa dianaktirikan sama negara sendiri. Padahal IPA & IPS punya peran yang sama-sama penting. Ini meme di bawah sangat menggambarkan perasaan aku sih:

2. Sistem pendaftaran yang sangat ribet

Di kala negara-negara lain memikirkan cara untuk menyederhanakan dan membuat proses pendaftaran makin praktis, beasiswa LPDP malah sistem pendaftarannya super duper kuno. Kita masih harus ngisi kolom agama dan ras, foto diri (buat apa coba?), terus harus sebutin satu-per-satu apa aja pengalaman organisasi, kerja, dan prestasi yang pernah kita capai. Wah, gila sih, sangat sangat time-consuming. Sedangkan di beasiswa lain kita bisa submit CV aja untuk meng-highlight apa aja credentials yang kita miliki.

3. Harus bayar dulu setengah juta untuk tes TBC

Ini prosedur yang aneh banget sih menurutku. Untuk semua pendaftar beasiswa LPDP reguler tujuan ke luar negeri, kita diharuskan untuk tes TBC dan hanya boleh di RS milik pemerintah. Harga tes TBC itu mahal lho, kalau sepengalamanku tes di RSUD Budhi Asih Jakarta, bisa sampe 600 ribu!

via GIPHY

Persyaratan bebas TBC memang biasanya diwajibkan untuk semua orang yang akan ke luar negeri (untuk visa). Tapi, kenapa diwajibkan sebelum kita tahu akan lolos beasiswa atau enggak? Persyaratan ini sebenernya bisa aja diharuskan di tahap terakhir, misalnya kita udah lolos interview, baru tes untuk menentukan dapet/nggak beasiswanya. Tapi ya kita semua udah tahu lah ya, ini pasti untuk “nyumbang” ke kantong pemerintah. Bayangin aja kalau ada 5000 peserta x 600.000 = udah Rp3 miliar yang diterima.

4. Tes Potensi Akademik dan Essay on the Spot

Setelah seleksi dokumen, kemudian kita akan masuk ke seleksi Tes Potensi Akademik (TPA), tes psikologi, dan essay on the spot. Dari pengalaman beasiswa-beasiswa lain, cuma beasiswa LPDP yang ada TPA dan pembuatan esai. Aku nggak tahu kenapa. Aku dulunya anak IPS, kuliah jurusan HI, mau lanjut di bidang yang sama sekali nggak ada matematika atau bahasa Indonesianya, tapi entah kenapa TPA tetap dijadikan patokan. Jadi ya mau nggak mau kita harus belajar lagi tuh rumus matematika, volume kubus, dsb.

via GIPHY

Lalu yang lebih aneh ada essay on the spot, tapi ini bagian yang misterius banget, karena nggak ada yang tahu apa gunanya esai yang kita tulis. Nggak disinggung sama sekali saat wawancara, entah dibaca atau enggak sama penilai. Soalnya penentuan lolos/enggaknya kita ke tahap wawancara adalah dari skor TPA – jadi apa fungsinya esai dong ya?

5. Dilarang membocorkan apapun yang terjadi selama interview

Ini nih, salah satu bagian yang tahun lalu sempat bikin heboh. Jadi setelah kita lolos tahap TPA, entah kenapa kita kemudian diminta untuk mengisi data-data yang cukup personal. Serius cuy, ini personal banget pertanyaannya, kita kudu ngisi handle media sosial, terus nama lengkap semua anggota keluarga, bahkan harus kasih keterangan bagaimana hubungan kita sama anggota keluarga tersebut. Aneh gak sih?

Lalu, ada juga surat pernyataan “Saya bersumpah kepada Tuhan YME….” yang pokoknya intinya kita gak boleh cerita ke siapa-siapa tentang apa yang terjadi selama interview beasiswa LPDP. I mean, when other countries aim to increase transparency, they just do the exact opposite? Ini sih tidak lain dan tidak bukan pasti supaya mereka nggak kena blow-up lagi kayak kejadian di Twitter yang lalu-lalu.

6. Semua jawaban sudah di-koordinasikan

Jadi ya, dari semua grup Telegram beasiswa yang aku ikuti, yang paling paling paling aktif adalah grup LPDP. Mungkin karena pesertanya juga yang kalau dikumpulin bisa bentuk kota baru di Indonesia. Tapi, percayalah jawaban-jawaban wawancara beasiswa LPDP itu banyak banget yang udah dimodifikasi sesuai dengan “tips dan trik” dari awardee sebelum-sebelumnya. Para calon penerima beasiswa ini niat banget sumpah, mungkin itu juga yang bikin aku nggak keterima dan mereka keterima ya. Mereka bener-bener latian wawancara online atau ketemuan buat latihan focus group discussion (dulu FGD masih jadi salah satu tahap seleksi).

Dulu waktu masih ada tahap FGD, bahkan kita udah bikin grup whatsapp sendiri dan sampe ada sesi latihannya dengan beberapa topik. Terus sebelum masuk ruangan udah koordinasi siapa nih yang bakal ngomong duluan. Soalnya katanya di dalem ada psikolog, jadi kita gak boleh keliatan terlalu egois atau mendominasi gitu kan. Ya begitulah, so many things aren’t even a genuine answer anymore.

7. Tidak ada keseragaman standar wawancara

Poin yang satu ini sebenarnya sangat-sangat merugikan buat peserta wawancara beasiswa LPDP. Aku pernah ikut seleksi sampai tahap wawancara 2x, yaitu tahun 2018 dan tahun 2019. Di tahun 2018, banyak peserta yang cerita kalau mereka disuruh nyanyi lagu daerah, nyebutin apa aja pilar bangsa (I dun even know?), sampai disuruh nyebutin Pancasila tapi pake Bahasa Inggris. Jadi sekarang banyak banget orang yang udah ngafalin lagu daerah, pancasila bhs inggris, just in case nanti ditanya pas wawancara. I’m totally clueless on what’s the point of all these questions. Is it supposed to “test” our so-called nationalism? Really?

Terus satu lagi, waktu aku wawancara beasiswa LPDP di tahun 2018, aku diwawancara full dengan Bahasa Inggris. Tapi tahun lalu, karena pewawancaranya beda, maka aku diwawancara full pakai Bahasa Indonesia dari awal sampe akhir. Dan ini bener-bener gak bisa diprediksi, ya kalian untung-untungan aja dapet giliran sama pewawancara yang mana. Tapi kan nggak adil ya, misalnya kita diwawancara dengan bahasa Inggris, terus karena tersendat-sendat, nilai kita jadi jelek dan kita jadi nggak lolos? Padahal yang lain mungkin kualitasnya sama, tapi karena diwawancara pake bahasa ibu, jadi mereka lebih lancar. It isn’t fair.

8. Pertanyaan-pertanyaan absurd

Di seleksi wawancara beasiswa LPDP, aku dapet pertanyaan yang agak absurd juga sih. Mungkin karena mukaku sipit putih, terus aku ditanya-tanya soal komunisme. “Kamu kenal nggak sama orang komunis?”, “Masa sih nggak pernah ketemu satu pun?”. Terus ditanyain tentang adanya pacar atau enggak. Karena males ribut, aku bilang aja ENGGAK. Sempat juga ditanyain soal permasalahan keluarga, kenapa aku nggak dekat dengan anggota keluarga tertentu. Ya gitu-gitu sih pertanyaan absurdnya. Sangat-sangat nggak relevan dengan beasiswa & kuliah, juga invading privacy orang.

By the way, beasiswa luar negeri seperti VLIR, SISGP, Chevening, dan NZS, tidak pernah menanyakan hal-hal seperti itu. Mereka bahkan nggak perlu tahu agama, ras, atau mau kepoin media sosial kita. Yang paling ingin mereka tahu adalah: kamu ini siapa, kenapa mau kuliah jurusan X, kalau udah selesai kuliah mau ngapain, dan seberapa besar potensimu untuk berkembang dan sukses dengan beasiswa itu.


Disclaimer

Biasanya kalau ada orang mengkritik beasiswa LPDP, nanti ujung-ujungnya pasti dibilang karena sakit hati gak keterima. But please, from the bottom of my heart, I am really grateful to be rejected. It turns out that the universe has another plan for me 😉

Catatan ini aku tulis karena aku merasa bahwa LPDP bisa jadi beasiswa nasional yang sangat-sangat hebat. Duitnya udah ada, sumber daya udah ada, sistem udah terbentuk, sekarang saatnya mengambil feedback secara obyektif dan memperbaiki diri. Kalau memang bisa jadi lebih baik, kenapa enggak, ya kan?

Semoga ke depannya makin banyak anak-anak Indonesia yang mimpinya bisa terwujud dengan beasiswa LPDP ini. Tentunya – semoga dengan cara seleksi dan wawancara yang lebih baik, etis, dan berorientasi pada merit.

Adios!

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment