Let's explore the world

Follow us

Intelegensi Embun Pagi - Wandersmurf
362
post-template-default,single,single-post,postid-362,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

Intelegensi Embun Pagi

Intelegensi Embun Pagi

Intelegensi Embun Pagi

Saya punya ekspektasi yang tinggi sekali pada Dewi Lestari. Dia adalah ibu sastra di jaman dimana menulis dan membaca bukan lagi kesukaan manusia yang utama. Dan sebentar saja setelah membaca KPBJ, saya langsung jatuh cinta dengan cerita yang ada di dalamnya. Semuanya begitu alamiah, natural, lucu, tapi juga cerdas dan kritis. Bahasanya diolah menjadi kalimat-kalimat yang enak dibaca namun juga masih puitis.

Sewaktu mendapatkan buku ini, saya hampir nangis. Akhirnya, setelah ditunggu bertahun-tahun, Alfa, Bodhi, Gio, Zahra, dan Elektra bisa bereuni. Saya jujur penasaran, apa sih yang bisa menyatukan pasangan gay, bikhu, penjaga warnet, fotografer, pecinta alam menjadi satu. Bagaimana mengolah karakter mereka masing-masing yang sangat kompleks di buku-buku sebelumnya. Tapi sayangnya, setelah membaca kurang lebih setengah buku IEP, saya merasa kurang tertarik lagi. Saya malas membawanya kemana-mana, bukan karena beratnya, namun karena saya merasa kurang tertarik untuk melanjutkan. Kenapa? Karena pada dasarnya saya tidak terlalu suka kisah berbau sci-fi, dengan macam-macam keanehan yang dijelaskan dengan deskripsi bernama teknologi/magic/kekuatan supranatural.

Saya paham bahwa kisah IEP berusaha merangkum semua kisah dan membuatnya menjadi masterpiece. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Saya merasa justru IEP sedikit mengurangi kesempurnaan di masing-masing buku sebelumnya. Seperti lebih enjoy menikmati kisah mereka masing-masing daripada harus bergabung namun terkesan dipaksakan. Pada akhirnya, yang membuat saya menyelesaikan buku ini adalah karena sudah terlanjur terlalu jauh. Setelah membaca 5 buku Supernova yang lain, IEP seperti sebuah “kewajiban” yang harus diselesaikan.

Ini adalah anti-klimaks yang mengajarkan saya untuk tidak berharap terlalu tinggi pada sebuah buku series. Tiga bintang adalah apresiasi saya pada Dee yang sudah bersusah payah menulis buku setebal 700 halaman (yang kian jarang dijumpai di Indonesia), dan keuletannya mempertahankan konsistensi cerita. All in all, I would choose Perahu Kertas & Rectoverso over IEP.

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment