Let's explore the world

Follow us

Book Review: 100 Days of Happiness - Wandersmurf
354
post-template-default,single,single-post,postid-354,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

Book Review: 100 Days of Happiness

100 Days of Happiness Book

Book Review: 100 Days of Happiness

Hari ini aku baru selesai baca buku yang bagus banget! Dan sekarang aku mau jelasin kenapa buku ini worth-reading-for. Ceritanya, hari Selasa lalu, aku bosen banget karena lagi gak ada buku bacaan. Sementara tahun ini resolusinya adalah baca 20 buku (sekarang masih 12 buku bytheway), jadi aku langsung cabs ke Senayan buat nyari buku di Kinokuniya.

Awalnya bingung sih, pengen baca yang serius-serius kayak bukunya George Orwell, tapi kok kerjaan udah cukup memusingkan. Jadi akhirnya, di saat-saat terakhir, aku liat buku ini. Judulnya “100 Days of Happiness”, dan pengarangnya orang Italia tulen. Ketika baca sinopsis di belakangnya, I know I’m gonna love this book. Kenapa? Karena aku pecinta list. Listophile, probably. Aku suka semua cerita yang berhubungan sama bucket list atau “Things to do before I die”, atau ya semacam itu lah. Akhirnya, dibelilah buku yang covernya unyu ini.

Cuma selang 4 hari kemudian, aku udah baca buku ini sampe abis. Dan ceritanya bener-bener mengharukan. Kisahnya itu tentang si Lucio, cowok umur 40 tahunan yang divonis kanker dan dia cuma punya waktu 100 hari buat hidup. Dia baru aja diusir sama istrinya karena ketauan selingkuh. Terus kemudian dia pun bikin notes kecil-kecilan dan bikin list tentang apa aja yang mau dia lakuin selama dia masih hidup.

Dari situlah ceritanya terus berkembang. Ceritanya sederhana kok, there is no plot twist atau grandeur accident. Tapi itu juga yang bikin buku ini luar biasa. Ceritanya sederhana, tapi pesan hidupnya banyak banget. Banyak banget halaman yang aku tandain karena ya…it’s worth remembering. Dan meskipun ceritanya mengharukan, tapi si penulis ini kocak banget! Aku sering senyum-senyum dan ketawa sendiri kayak orang gila waktu baca buku ini. Di beberapa bagian terakhir memang ceritanya jadi menyedihkan parah. Sampe nangis tersedu-sedu kayak lagi nonton filem beneran. Ah, pokoknya… feelingnya dapet deh!

Meski sebenarnya ada beberapa bagian-bagian minor yang aku kurang suka juga. Kayak misalnya, kenapa sih istri Lucio tiba-tiba maafin suaminya cuma karena dikasi surprise kecil-kecilan? Coba deh kalau Lucio usahanya lebih keras, atau diceritain juga apa yang dirasain sama Paola di hari-hari sebelum Lucio meninggal. Dijamin pasti ceritanya lebih seru dan pembaca bisa lebih ngerti gimana sih dinamika hubungan kedua orang ini!

Tapi it was a minor let down. Sisanya, buku ini bener-bener bagus dan nemuin buku sesederhana tapi sekeren ini tuh susah lho! So, enjoy the book and may you learn a lot from Lucio’s 100 last days on Earth!

“The important thing is to make sure that when death comes, it finds us still alive” – 100 Days of Happiness

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment