Let's explore the world

Follow us

We are the Ants - Wandersmurf
347
post-template-default,single,single-post,postid-347,single-format-standard,ajax_updown_fade,page_not_loaded,,qode_grid_1300,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-16.7,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.5.4,vc_responsive

We are the Ants

We are the Ants

Aku mau cerita dikit: Ada seorang anak namanya Henri, dia udah gak punya ayah, dan dia tinggal sama kakak, ibu, dan neneknya. Ibunya cuma seorang pelayan di restoran, neneknya menderita alzheimer, dan kakaknya baru aja hamil sama pacarnya. Dan Henri terpilih dari sekitar 7 miliar manusia di muka bumi untuk menyelamatkan planet ini. Yup, dia sering diculik alien yang memaksa dia buat bikin keputusan: dalam waktu 144 hari, bumi ini bisa punah dan hancur lebur. Tapi, Henri bisa menekan sebuah tombol buat mencegah semua kepunahan itu.

The story sounds pretty silly, right? Yet that is the exact synopsis written on the back of the book. Pertama kali aku baca, aku langsung mengernyit, like seriously? Is this E.T. – related story or some short? Tapi aku penasaran!

Penasaran sama judulnya, pengarangnya, dan sama apa sih yang pingin diceritain sama buku ini. Jadi aku beli buku ini cuma untuk satu tujuan: apakah akhirnya si Henri menekan tombol itu untuk nyelametin bumi yang pretty fucked up atau enggak.

Dan ternyata, oh ternyata, buku ini keren banget! Belakangan ini aku lagi jarang-jarangnya nemuin buku yang meaningful dan enak dibaca. Tapi cuma dalam waktu 3 hari, aku bisa habis dan nyeleseiin buku ini dengan senyum puas. Bahasa yang dipake oleh Shaun David ini ringan, khas anak muda, tapi tetap disisipi sama beberapa kontemplasi pemikiran dari tokoh utamanya.

Topik yang dibahas di buku ini luas banget. Awalnya aku kira buku ini cuma mau ngangkat permasalahan konflik keluarga yang emang sering dialami sama para remaja. Tapi ternyata enggak. Buku ini juga ngangkat soal isu bullying. Aku pribadi jadi tersentuh, karena aku bisa cukup ngerti dengan perasaan orang yang sering dibully. Kita gak tau kalo bullying itu mengakibatkan orang yang di-bully jadi putus asa dan bahkan mulai berpikir kalo mereka memang orang gak berguna, jelek, atau lain-lain. Disini, Henri sering diejek jadi ‘Space Boy’, lama kelamaan dia frustasi banget dan dia juga jadi rendah diri. ‘I will always be a space boy, forever’, gitu kata dia ketika temen dia berusaha nyemangatin.

Selain itu, Henri juga ngalamin di-bully sama kakaknya di rumah. Terus dia yang gay, harus berhadapan sama kesedihan setelah ditinggal bunuh diri sama pacarnya (Jesse). Banyak banget lah masalah yang harus dia hadepin, dan semuanya bikin dia yakin kalo dunia ini sebenernya gak worth-it untuk dislametin. Buat apa? Toh dia juga udah sengsara. So he thinks it would be better to wait for 144 days and swallow them all, until the world blows.


Walaupun banyak banget isu-isu berat yang diangkat (dari alzheimer, family conflict, hamil di luar nikah, gak bisa mewujudkan mimpi, bullying, sampai ke masalah gay), tapi semuanya dikemas dengan sangat ringan. Kita jadi bisa me-relate masalah-masalah ini ke dunia sehari-hari, dan menyadari bahwa memang masalah-masalah ini nyata di sekitar temen-temen kita.

Aku misalnya, aku cukup terbuka dengan isu gay, aku merasa ngapain sih kita melarang-larang orang buat mencintai orang lain. It’s their rights. Dan walaupun aku belum punya temen yang openly gay, tapi buku ini bisa kasi aku perspektif tentang gimana kaum gay harus ‘sembunyi’ dan ‘diejek’ karena perbedaan mereka. Gimana mereka sebenernya hubungannya sama kayak heteroseksual pada umumnya.

Kemudian ada lagi isu tentang bunuh diri. Si Henri dan temennya selalu ngerasa bahwa pacarnya, Jesse, itu bunuh diri karena dia. They should have seen it coming, they should have read between the line, etc. Tapi ternyata gak selalu gitu, kadang orang depresi bukan karena faktor eksternal, kadang di dalem diri mereka aja yang ingin nyerah dan ga tahan untuk hidup lagi. Tapi orang yang bunuh diri kebanyakan gak pernah mikirin gimana dampaknya untuk orang-orang di sekitar mereka. Gimana orangtua, pacar, dan temen mereka akan merasa bersalah seumur hidup karena mereka ngira mereka bisa mencegah itu semua.

Ah, gay dan bunuh diri cuma dua isu utama yang diangkat. Masih banyak isu lain yang akan dibahas dengan cerita yang mengalir di buku ini. Yang pasti, buku ini sangat sangat menarik dan fun untuk dibaca. Gak cuma terhibur dengan joke-joke ringan yang ada disini, kita juga bisa ngeliat perspektif orang lain di isu-isu lain. Dan surprisingly, sentuhan sci-fi berupa alien ternyata malah bikin buku ini makin keren, karena gak berlebihan dengan detail-detail teknis yang gak penting. Buku ini pengen nyeritain sesuatu yang sangat manusiawi, dengan menggunakan sudut pandang yang baru. Yah, dengan diculik alien yang mau menghancurkan bumi itu. Unik!

Finally, here is my favorite lines from the book:

We are the Ants

Happy reading!

Falencia Naoenz
falenciabiru@gmail.com
No Comments

Post A Comment